Sejarah'' Gang Dolly Surabaya

[Image: zph5ipbz.jpg] Wani Piro !!!!!!!!!!!!!
KONON, Dolly adalah nama seorang perempuan berkebangsaan asing yang dulu menetap di sekitar Jalan Jarak Surabaya. Perempuan dengan sebutan Tante Dolly itulah yang kemudian dikenal sebagai legenda awal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi Dolly.
Sejatinya, bila bertanya pada hati nurani, tak akan ada seorangpun yang setuju dengan keberadaan sebuah lokalisasi. Cobalah tanyakan pada setiap orang: maukah dia, bila Ibu/bapak atau istri/suami atau anaknya menjadi pelacur/gigolo di sana?
Suatu keniscayaan, meniadakan Dolly. Namun tentu, tak ada satu individu pun yang ingin mengembangkan Dolly menjadi sebuah proyek taman wisata berbau m3sum yang besar. Maka jawaban yang pas, ganti dengan Taman Hiburan Dolly Halal (THDH). Ide ini memang terdengar aneh.
Ada beberapa langkah kongkret. Butuh kekompakan dan kesadaran moral dari semua pihak, baik masyarakat, Pemkot Surabaya, terlebih para “pegawai” Dolly. Pihak swasta tidak dilarang urun bantuan. Meski harus digarisbawahi, proyek THDH adalah proyek moral dan wisata lokal-nasional, tidak semata proyek materialistis.
Penyosialisasian dan penyuluhan sangat diperlukan guna menghindari perdebatan dan perselisihan antara pihak yang akan “direkondisi”(pekerja Dolly, mucikari dan pedagang oncom) dan pihak yang “merekondisi” (pemerintah dan masyarakat umum). Paling tidak, ada beberapa langkah beruntun selepas penyosialisasian dan penyuluhan tentang proyek THDH.
Pertama, memberi uang “pesangon” secukupnya untuk orang-orang yang “pekerjaan”-nya direkondisi. Perihal finansial biasanya menjadi pokok permasalahan berbagai interupsi sosial. Dengan uang pesangon diharapkan bisa meredam kegaduhan perbedaan pandangan. Pesangon bisa untuk modal usaha kecil, maupun dana hidup selagi tenggat waktu mencari pekerjaan baru.
Kedua, bila memungkinkan, para “pegawai” Dolly disalurkan sebagai pekerja-pekerja di berbagai perusahaan pemerintah maupun swasta yang bekerjasama dengan Pemkot Surabaya. Bila nantinya perusahaan-perusahaan itu cocok, status pekerja boleh dipermanenkan. Selanjutnya, selepas proyek THDH selesai, “pekerja” Dolly dijadikan prioritas untuk bisa bekerja di tempat itu.
Jembatan Suramadu adalah proyek megamahal. Pembangunan apartemen dan pusat bisnis pencakar langit juga tak kalah mahal. Demikian pula proyek Gelora Bung Tomo. Pemkot dengan menggandeng investor yang mumpuni seharusnya mampu membangun tempat wisata bergengsi di Surabaya.
Ide rekondisi lokalisasi prostitusi Dolly menjadi lokalisasi THDH bukanlah hal yang buruk. Cara ini sanggup menciptakan pusat wisata berisi banyak wahana hiburan yang bergengsi, senyampang menjaga masyarakat dari ketergerusan moral.
[Image: gangdollyrg6.jpg]
Berbicara tentang surabaya, Tak lepas dari image dolly. Konon, dolly lebih terkenal ketimbang surabaya. Waktu di BALI , ada orang AUSIE dan BRAZIL yang lebih tahu DOLLY ketimbang SURABAYA!! Hebat banget nama ini.
Menurut sejarah, Dolly berdiri sejak jaman penjajahan BELANDA. Saya sendiri kurang mengetahui sejak kapan dolly berdiri. Dolly didirikan oleh TANTE DOLLY yang ASELIE keturunan NONIK BELANDA, turunan Tante dolly masih ada hingga kini , tapi ga ada yang ngurusin DOLLY lagi. Sebagai pencetus dan pendiri dolly, tante dolly terbilang sukses. Buktinya , dolly adalah salah satu prostitusi terbesar di asia tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura, gila kan?.
Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Di sana, tak hanya terdengar derungan suara mesin kendaraan yang lewat, tetapi juga ada desahan napas para kupu-kupu malam yang terdengar sayup-sayup di balik kamar sempit.
Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokk, tukang parkir, tukang becak dan lain-lain. Di sana juga terdengar sayup-sayup seorang anak sedang melantunkan ayat-ayat suci, dan kalimat-kalimat bijak di tengah-tengah majelis pendidikan. Kompleks banget kegiatan disini.
Pernah terlintas Dolly dimasukkan icon wisata bagi kota surabaya!!. Hahaha. pingin ketawa jadinya, terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Pihak Pemkot surabaya jelas mikir 20003 kali kalau membuang atau menutup dolly layaknya KRAMAT GANTUNG di JAKARTA, SARITEM di BANDUNG. Kenapa? penghasilan perbulan dari dolly mencapai 34 milyar rupiah!! Bukan HOAX, tapi itulah fakta yang aku dapatkan dari teman yang kerja di pemkot, hebat kan.
Quote:
[Image: 6.jpg]
[Image: 7.jpg]
[Image: 8.jpg]
[Image: 10.jpg]
[Image: 1.jpg]
[Image: 3.jpg]